Ketika Persoalan Agama Menjadi Asing …
Bumi sudah semakin tua, zaman sudah menunjukkan perubahan-perubahan yang sangat signifikan. Teknologi sudah semakin berkembang dengan pesatnya. Dulu barang elektronik sangatlah langka, bahkan termasuk orang kaya jika ada orang yang memiliki barang-barang elektronik. Namun kita lihat sekarang barang-barang elektronik hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sedikit contoh saja handphone, dulu handphone Nokia 3350 hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke atas saja dan menjadi barang yang sangat mewah meskipun dengan sedikit fitur. coba kita bandingkan pada zaman sekarang Nokia 3350 yang dulunya menjadi barang mewah sekarang sudah menjadi barang sudah tidak berharga lagi akibat bayaknya smartphone yang memiliki fitur yang sangat mewah. Kamus, buku pelajaran, novel, kalkulator, chater dan berbagai aplikasi media sosial bahkan Al-Quran pun sudah dapat kita baca dalam satu kali sentuhan. Tanpa kita sadari kita sudah melupakan sunah untuk membaca menggunakan mushaf Al-quran. Bahkan banyak diantara kita yang tidak memiliki mufhaf al-quran, karena al-quran elektronik menurut mereka sudah cukup. Na’udzubillahi min dzalik.
Bagi kaum hawa barang-barang seperti itu menjadi media untuk selalu update dalam hal trend gaya berpakaian. Banyak para kaum hawa tergiur untuk mengikuti trend setiap tahunnya. Tanpa kita sadari baju pada zaman sekarang sudah banyak yang menampakkan bentuk tubuh dari saudari-saudari kita. Baju masa kecilnya sudah menjadi trend dipakai pada masa remajanya. Celana dan baju yang dulunya panjang dan lebar, namun coba kita lihat sekarang begitu pendek, ketat sangatlah tipis. Banyak dari saudari kita yang muslim namun tidak menampakkah pakaian yang ia pakai seorang muslim. Okelah, sekarang baju muslimah menjadi trend. Namun coba kita telaah, apakah baju muslimah antum sudah syar’i? banyak sekarang kaum wanita memakai kerudung namun baju masa kecilnya yang ia pakai. Banyak wanita yang memakai kerudung namun celana yang ia pakai sangatlah ketat dan tipis sampai tidak jarang menampakkan apa yang dibaliknya.
Pada zaman ini, sudah menjadi hal lumrah bagi kaum hawa memakai pakai tersebut. Bahkan sangatlah miris ketika ada seorang akhwat memakai pakaian yang syar’i dengan sedikit hiasan cadarnya menjadi asing bagi kita dan seorang pria dengan sedikit hiasan jenggot diasumsikan teroris. Padahal itulah sunnah rasul yang sepatutnya kita lakukan. Sudah banyak persoalan agama ini menjadi hal asing untuk kita lakukan sebagai contoh bercadar, jilbab syar’i, jubah, kopiah, baju takqwa serta berjenggot bahkan sholatpun menjadi hal asing.
Teringat sabda rasulullah bahwa ada suatu zaman dimana persoalan agama akan menjadi asing kembali seperti zaman jahiliyah. Coba kita bandingkan zaman saat ini ketika kita melakukan aktivitas dakwah jika kita menjadi seorang aktifis dakwah seakan kita menjadi seorang yang asing bagi mereka yang notabene sama-sama seorang muslim. Ketika kita mengaji, hal itu dianggap hal biasa bahkan mengatakan “maklum dia adalah seorang aktifis dakwah dan sudah sepantasnya bisa ngaji”. Padahal bisa membaca al-quran adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Coba kita bandingkan muslim yang mengikuti kajian dengan yang berpestafora, masih lebihbanyak yang tidak mengikuti kajian. mereka berfikir pengajian tersebut khusus orang-orang yang alim, padahal menuntut ilmu agama adalah keawajiaban bagi seorang muslim.
Sungguh beruntung orang-orang yang masih tetap menjalankan dakwah dalam setiap detik kehidupannya, orang-orang yang selalu berkomitmen dalam menjaga syariat islam pada zaman ini. Tetap berkomitmen untuk berjilbab syari, memakai pakaian muslim yang syari, menjalankan sholat, serta menjalankan sunnah rasul pada zaman ini merupakan pahala yang sangat besar baginya karena pahala seorang dihitung dengan seberapa besar godaan pada zaman itu. Sangatlah besar pahala seseorang yang tetap berkomitmen untuk berpakaian syari pada zaman yang dimana berpakaian syar’i menjadi minoritas dari pada ketika zaman dimana berpakaian syar’I menjadi mayoritas.
Dan rasulullah bersabda bahwa “thoba (super beruntung) orang-orang tersebut yaitu orang yang masih memikirkan sunnahku ketika orang sudah melupakan sunnahku”. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimaksud Rasulullah SAW. Orang-orang yang selalu melanjutkan perjuangan Rasullah untuk Selalu berkomitmen mentaati syariat islam, menjalan sunnahnya dan berkmitmen untuk selalu berada dijalan dakwanya.
By : Moh Imam Dzarrin Al-Ghifariy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan kesan atau saran Anda mengenai tulisan di atas.
Sertakan identitas Anda untuk mempererat silaturrahmi :)