Pages

Kekuatan Sebuah Doa

kekuatan sebuah doaAlkisah, ada suatu keluarga yang agamis yang sedang diuji kesabarannya. Keluarga tersebut mempunyai 3 orang anak yang masih balita sehingga membutuhkan asupan gizi untuk menunjang pertumbuhannya. Tetapi sayang pemimpin keluarga tersebut baru beberapa hari dipanggil menghadap Sang Pencipta, sedangkan sang istri hanyalah seorang guru mengaji yang tidak pernah memasang besaran imbalan yang harus dia terima.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai orang tua tunggal bagi ketiga buah hatinya, krisis keuangan mulai dirasakan olehnya. Tetapi karena dia punya prinsip tangan diatas lebih mulia dari pada tangan dibawah, maka dia mencari kerja tambahan sebagai seorang buruh cuci pakaian dari rumah ke rumah dengan catatan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga tetap dia kerjakan.

Suatu ketika imbalan-imbalan yang diharapkan dari jasa cuci pakaian belum satu orangpun yang membayarnya, sedangkan kebutuhan untuk ketiga anak-anaknya sudah tidak tersedia, sehingga dengan modal keberanian sambil berdoa: “Ya Allah, ringankanlah langkah hamba untuk mencari kebutuhan anak-anak ku. Amin…”.

Sampailah beliau di sebuah swalayan yang cukup besar, lalu dia menghadap kepada sang pemilik sambil mengutarakan keinginannya, “Pak, saya tidak mempunyai uang, tetapi saya butuh bahan pokok untuk memperpanjang hidup anak saya, nanti bila sudah ada uang akan saya bayar”. Lantas pemilik swalayan menjawab, “Maaf, tidak bisa Bu. Ini jualan cash bukan dikreditkan, dan Ibu juga tidak punya jaminan pasti kapan Ibu akan bayar”. “Insya Allah Pak, saya pasti bayar bila orang yang menggunakan jasa saya sudah membayar”, jawab si Ibu.

Tetap tidak bisa, karena jaminan waktu dan orang-orang penjamin tidak ada” tegas pemilik swalayan. Diujung kasir ada seorang pembeli yang budiman mendengar percakapan tersebut, dan karena belas kasihan dia menghampiri mereka lalu berkata: “Pak, tolong berikan semua kebutuhan Ibu tersebut, nanti saya yang membayar”.

Ibu tersebut tertunduk tidak mau melihat ke orang tersebut, sedangkan pemilik swalayan karena gengsi dia lalu berkata: “Tidak Pak, biar swalayan ini yang menanggung” (sambil menepuk dadanya).

Lalu pemilik swalayan berkata ke Ibu tersebut sambil memberinya secarik kertas dan pulpen : “Silahkan tulis apa yang kamu mau, lalu letakkan diatas timbangan, dan saya akan memberi seberat timbangan tersebut”.

Ibu tersebut lalu menulis, kemudian meletakkan kertas tersebut diatas timbangan (di bagian anak timbangan). Tetapi apa yang terjadi? timbangan tersebut turun dan turun terus seolah-olah kertas tersebut sangat berat. Kemudian Ibu tersebut memilih apa yang dia butuhkan lalu meletakkannya di cawan timbangan, terus-menerus Ibu tersebut memasukkan barang-barang yang dia butuh-kan ke dalam cawan timbangan sampai kebutuhan telah terpenuhi tetapi timbangan tersebut belum seimbang.

Pemilik swalayan merasa kesal dan muncul niat jeleknya untuk merobek sebagian kertas yang ditulis ibu tersebut. Tetapi apa yang terjadi? pemilik swalayan sangat tercengang karena di kertas tersebut tidak ada tertera tulisan kebutuhan dari Ibu tersebut, hanya ada tulisan doa: “Ya Allah, Engkau maha tahu apa yang ada di dalam relung hati hamba-Mu, kabulkanlah, amin…” .

Dari ilustrasi diatas dapat kita ambil hikmah, doa adalah kekuatan hati kita untuk melakukan apapun selama masih di jalan-Nya. Tanpa Ridho-Nya kita tidak ada arti di dunia ini. Ingat, kita semua di dunia hanyalah hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan harus bermanfaat bagi orang lain, Amin…
Semoga bermanfaat.

Karya K.Ratnawati, dikutip dari Majalah Halo Sritex Edisi Januari 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan kesan atau saran Anda mengenai tulisan di atas.
Sertakan identitas Anda untuk mempererat silaturrahmi :)